Berjuang untuk Pulang.

image

Pulau Breuh merupakan pulau di ujung barat Indonesia. Bahkan lebih kebarat dari Pulau Weh, tempat titik nol kilometer berada. Ini adalah catatan kecil saya mengenai ketegangan diperjalanan menuju pulang. Tak ada yang pasti dalam suatu perjalanan. Kecuali satu kata, pulang.

Suatu ketika, di lautan paling ujung barat Indonesia. Tiba-tiba terdengar bunyi “Krak” yang keras dari mesin perahu sewaan kami. Bunyi keras itu diikuti kesunyian. Mesin perahu sewaan kami mati!

Setelah ditinggal kapal penumpang dari Pulau Breuh yang menuju Banda Aceh, kami putuskan untuk menyewa perahu nelayan. Karena saya harus mengejar pesawat untuk pulang ke Jakarta sore itu. Namun perahu sewaan kami pun bernasib malang. Mesin mati ditengah jalan.

Nahkoda pun membuang sauhnya agar perahu tak terseret arus. Seolah nasib buruk masih enggan untuk menjauh dari kami. Setelah sauh dilempar dan tali sudah habis, ternyata sauh belum mencapai dasar laut.

Terombang-ambing di laut yang dasarnya tak terjangkau. Arus cukup kuat yang membuat perahu kami berguncang hebat. Tiba-tiba saya mual. Pikiran buruk pun serta-merta memenuhi otak.

Sambil tetap menenangkan pikiran, saya melirik ransel. Untung sebelum berangkat saya sempat memenuhi botol minum dengan air. Paling tidak, jika harus lama menunggu bantuan datang kami punya air minum untuk bertahan.

Ketika pak nahkoda menyambung tali sauh, anak buahnya memeriksa mesin kapal. Ternyata mesin kapal sudah rusak parah. Badan mesin pun sudah dipenuhi karat. Tak ada pilihan lain. Pak nahkoda pun segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon kawannya untuk mendapatkan bantuan.

Konfirmasi terdengar dari speaker ponsel pak nahkoda. Seorang kawannya akan menyusul kami dengan membawa perahu dari pulau Breueh. Mendengar hal tersebut ada sedikit kelegaan. Namun itu berarti kami harus menunggu lebih satu jam untuk mendapat bantuan. Karena kami sudah berlayar cukup jauh dari Pulau Breueh.

Sambil menunggu bantuan datang, kami mengibarkan plastik terpal berwarna hitam yang disulap menjadi bendera. Katanya itu tanda meminta bantuan. Selain itu aku juga melambaikan tangan dan teriak meminta bantuan pada kapal-kapal yang melintas. Namun semua kapal terlalu jauh untuk dapat mendengar teriakan kami.

Setengah jam berlalu, akhirnya ada kapal nelayan yang melintas. Cukup dekat sehingga dapat mendengar teriakan kami. Secepatnya kami memindahkan tas, barang bawaan dan sepeda kami begitu perahu tersebut merapat.

Sesaat setelah pindah perahu, seluruh isi perut saya mendesak keluar. Saya muntah. Namun seluruh pikiran buruk ikut keluar bersama isi perut. Sisa perjalanan terasa lebih ringan.

Hembusan napas panjang baru terlepas lega setelah kami merapat di Banda Aceh. Pelabuhan Lampulo tepatnya.

Perjalanan pulang ini mengingatkan sebaris kalimat dari seorang sahabat : “Pelaut tangguh lahir dari ombak besar.”

Disclaimer : 

Foto diatas adalah saya bersama bapak nelayan yang menyelamatkan kami dari perahu yang rusak. Foto diambil oleh Dika

Catatan lengkap mengenai perjalanan kami di Pulau Breuh juga ditulis oleh Citra Rahman, disini. Dan oleh Dika, disini.