Pahawang, Pulau Cantik Di Ujung Bawah Sumatera.

20120804_094906

Aku sangat suka suasana laut. Jangankan di tengah lautan, di pinggirnya saja sudah mebuatkularut dalam kesunyian yang mengasyikkan. Rasa itu biasanya kucecap optimal dengan menjalankan yoga di pantai. Serasa hanya ada aku dan Tuhan.

Tentu, bukan hanya itu kegiatanku setiap berwisata ke laut. Aku juga menikmati berenang,
main pasir, mengagumi keindahan bawah laut, atau sekedar tidur-tiduran memanjakan mata dan sekujur tubuh dengan belaian angin laut.

Karena itu, berwisata ke pulau, pantai, laut seakan wajib bagiku. Berbagai obyek wisata laut dipelosok negeri sudah kujelajahi. Semua indah dengan pesona masing-masing.

Aku tinggal di Jakarta. Ternyata, ada lokasi wisata laut berlokasi dekat Jakarta malah belum kudatangi, Pulau Pahawang, di ujung bawah Pulau Sumatera. Konon lautnya cantik. Akhir tahun lalu, aku bersama sepuluh teman pun jalan ke sana.

Pulau Pahawang terletak di Kecamatan Punduhpedada, Pesawaran, Lampung. Penyeberangan kepulau ini melalui Dermaga Ketapang di Kecamatan Padangcermin, Pesawaran. Dengan perahukecil berkapasitas 15 orang, lama perjalanan sekitar 45 menit.

Kami berangkat dari Jakarta menggunakan bus menuju Pelabuhan Merak, Banten, lanjut
menyeberang menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Dari
Pelabuhan Bakauheni kami menyewa mobil untuk menuju ke Dermaga Ketapang karena tak ada bus ke sana. Kami sengaja berangkat dari Jakarta pada malam hari agar tiba di DermagaKetapang pagi harinya.

20120804_06452920120804_070150

Sampai Ketapang, matahari masih mengintip. Perahu kami sudah menunggu. Kami menyeberang ditemani sinar kemerahan yang hangat. Penjelajahan Pulau Pahawang dimulai.

Pulau Pahawang memiliki enam dusun yaitu Suakbuah, Penggetahan, Jeralangan, Kalangan, Pahawang serta Cukuhnyai dengan penghuni 1.533 jiwa. Di sekitar Pulau Pahawang terdapat beberapa pulau seperti Pulau Pahawang Kecil, Pulau Gosong, dan Pulau Kelagian.

Perjalanan kami dimulai dengan mengelilingi Pulau Pahawang Besar menggunakan perahu. Dengan luas 1.084 hektare, mengelilingi pulau itu dengan berjalan kaki, kala itu, jelas bukan pilihan kami.

20120804_115353

Kami memilih mengelilingi pulau dengan perahu. Menyisiri seluruh garis pantai pulau. Di salahsatu bagian pulau hanya terdapat jajaran pohon nyiur yang banyak dan rapat-rapat. Jajaran pohon kelapa itu seakan sedang menari ditiup angin.

Dibagian lain, terdapat hutan dengan pohon besar di bibir pantainya. Di bagian ini, hanya ada sedikit pasir di pantainya dan langsung disambut rimbun pepohonan. Air laut yang berwarna biru jernih, terlihat kontras dengan warna hijau dari pepohonan. Indah.

20120804_071408

20120804_071233

Di Pulau Pahawang besar terdapat sebuah villa yang dimiliki oleh seorang berkewarganegaraan Perancis. Penduduk sekitar hanya mengenal pemilik villa tersebut dengan panggilan Mr. Jo yang saat itu tak ada di tempat.

Villa ini memiliki tiga bangunan. Bangunan utama yang terletak ditengah merupakan ruang
makan sekaligus ruang berkumpul dan melakukan segala aktivitas. Di kanan dan kiri bangunan utama adalah tempat istirahat yang terdiri dari beberapa kamar di setiap bangunannya.

20120805_08242220120805_083255

Menariknya, meski pemiliknya warga negara Perancis, arsitekturnya khas rumah Jawa. Gebyok ukiran khas Jepara di dinding dan daun pintunya. Perabot dan furniture yang terdapat di vila ini pun tetap beraroma Jawa.

Sebuah kapal kecil bertuliskan “Ville D’echternach II” tertambat dengan manis di dermaga. Tak jauh dari dermaga, di perairan yang lebih dalam, bersauhlah kapal yang lebih besar bernama “Ville D’echternach”.

20120805_08200120120805_081728

Puas berkeliling Pulau Pahawang Besar, saatnya menjelajah perairan sekitar. Terdapat beberapa spot snorkeling di sekitar Pulau Pahawang. Salah satunya terdapat kapal nelayan yang karam. Kapal tersebut menjadi tempat persembunyian bagi ikan dan hewan laut lainnya. Kapal yang karam ini hanya sebagian yang ada didalam air. Sedangkan haluan kapal mencuat keatas permukaan air.

Keragaman bawah laut di pulau ini meliputi macam-macam karang, ikan, tumbuhan laut.
Bulu Babi yang tampak di bawah membuat nyaliku ciut untuk terjun ke air. Ingat pernah
disengat puluhan Bulu Babi. Untunglah air di laut pulau ini sebening kaca. Aku bisa memotret keindahan bawah laut bahkan dari atas kapal.

20120804_114815

Tapi iri juga melihat teman-teman yang asyik snorkeling sampai lupa waktu. Segera kuambil snorkle, dan tak lama kemudian aku sudah tenggelam dalam keindahan bawah air laut Pahawang.

Setelah mengelilingi beberapa spot snorkling kami memutuskan untuk singgah di Pulau
Pahawang kecil. Di sana kami menunggu senja dan bersantai setelah menguras tenaga saat snorkeling. Kelapa muda menjadi teman kami bersantai.

Aku menikmati kelapa muda di hammock yang tergantung di antara dua pohon kelapa.
Keindahan pulau selalu membuatku ingin menyendiri, memanjakan mata dengan hati yang tak henti berucap syukur. Bagaimana tak bersyukur bisa menikmati sepotong surga ini. Tuhan maha indah.

Menjelang petang kami kembali ke Pulau Pahawang besar untuk istirahat. Kami menginap di rumah salah seorang penduduk. Rumah di perkampungan ini hampir semua sudah berbentuk bangunan permanen.

20120805_075002
Kantor Desa Pahawang

Namun, meskipun sudah berbentuk bangunan permanen, sistem sanitasi masih sangat sederhana. Tidak ada pompa listrik di setiap rumah. Untuk air bersih mereka masih menggunakan sumur tradisional yang harus ditimba dengan menggunakan ember.

Selain itu, tidak ada toilet atau WC di setiap rumah. Jadi, untuk melakukan “panggilan alam” peduduk melakukannya di laut. Namun, karena kami tidak terbiasa untuk membuang hajat di laut, tak ada satupun dari kami yang buang air besar selama dua hari kami menginap di Pulau Pahawang.

Hari kedua. Kami memutuskan untuk berlayar ke Tanjung Putus dan Pulau Kelagian yang tak jauh dari Pahawang. Di Tanjung Putus terdapat Pulau Gosong, yaitu pulau yang hanya terdiri dari pasir putih. Namun karena saat kami kesana air laut sedang pasang, maka pulau tak terlihat.

Sebagai gantinya, kami disuguhkan air laut jernih berwarna toska yang tak terlalu dalam.
Seperti kolam renang pribadi yang tak berbatas dan di bingkai dengan jejeran bukit dan pulau dikejauhan.

20120804_094840
Tanjung Putus
20120804_094914
Tanjung Putus

Orang bodoh mana yang hendak menyia-nyiakan kolam renang alami super indah seperti ini? Setelah perahu benar-benar berhenti dan bersauh, aku langsung melompat dari perahu. Selang beberapa menit, kawan yang lain pun menyusul. Beberapa orang yang tidak bisa berenang menggunakan jaket pelampung yang disediakan di kapal. Tak ada alasan bagi mereka untuk tidak menikmati air yang dingin dan bening ini.

Tidak ada karang di Pulau Gosong. Namun ada beberapa rumput laut dan tumbuhan lainnya tempat ikan-ikan bersembunyi. Dengan mudah kami menemukan ikan badut dan ikan cantik lainnya. Ketika matahari mulai meninggi, kami naik ke perahu dan melanjutkan perjalanan. Rasa lapar dan haus membawa kami ke tujuan berikutnya : Pulau Kelagian.

Pulau Kelagian sebenarnya adalah pulau yang tak berpenghuni. Namun beberapa masyarakat membangun saung-saung di tepi pantai di pulau ini. Untuk masuk ke pulau ini dikenakan biaya masuk. 3000 rupiah per orang. Selain saung, masyarakat sekitar juga membangun warung-warung yang menjajakan makanan. Pulau ini juga biasa digunakan untuk para pecinta alam yang ingin berkemah.

20120805_093739
Pulau Kelagian

Pulau Kelagian meiliki pantai yang indah. Dengan pasir putih sehalus bedak dan air sebening kaca, pulau ini cocok untuk bersantai dan berenang di perairan sekitar pantai. Saat merapat dipulau kelagian, kami berpapasan dengan perahu nelayan yang juga sedang merapat. Rupanya di sekitar pulau Kelagian merupakan lokasi memancing para nelayan.

“Mau ikan? Nanti biar saya bakarin,” kata Mas Yanto, nahkoda sekaligus pemilik kapal yang
kami tumpangi. Kami dengan semangan memilih ikan yang baru saja di pancing para nelayan tersebut. Setelah melirik kedalam perahu nelayan tersebut, ternyata penuh dengan ikan hasil pancingan yang adalah ikan bawal berukuran jumbo. Kami memilih empat ekor dan saat ditanya berapa harganya, sang nelayan menjawab, “Ngga usah mbak. Bawa aja.”

Kami terkejut dan malu atas kebaikan nelayan itu. Dengan setengah memaksa, kami
menyelipkan uang sekadarnya. “Untuk ganti uang bensin ya pak,” kataku. Meskipun tanpa
bumbu, ikan bawal bakar kami terasa nikmat. Rasanya manis karena masih segar.

Setelah makan kami melanjutkan menikmati indahnya pulau Kelagian. Ada yang berenang,
berfoto, bahkan berjemur ala bule. Saya memilih menikmati pulau di sebuah ayunan yang
menggantung di sebuah pohon. Teduh. Sekali lagi, mulut saya berucap syukur. Saat itu, inginnya petang terlambat datang, karena saat petang kami harus segera ke dermaga Ketapang. Pulang.

-Cut Khairun Nisa-

Disunting oleh : Harun Mahbub Billah

5 thoughts on “Pahawang, Pulau Cantik Di Ujung Bawah Sumatera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s